Capt. Ikebana dg gabungan bunga besar dan kecil

Di dalam kebudayaan Ikebana, terdapat berbagai macam aliran yang masing-masing mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga. Aliran tertentu mengharuskan seseorang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian depan, sedangkan aliran lain mengharuskan seseorang melihat rangkaian bunga yang berbentuk tiga dimensi sebagai benda dua dimensi saja, Minna-san. Agar kelak lebih mudah dalam proses menganyam satu sama lain bunga tersebut.

Pada umumnya, bunga yang dirangkai dengan teknik merangkai dari Barat (Flower Arrangement) terlihat sama indahnya dari berbagai sudut pandang secara tiga dimensi dan tidak perlu wajib dilihat dari bagian depan saja. Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme serta warna. Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tapi pada aspek pengaturannya menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana didasarkan tiga titik yang mewakili langit, bumi, dan manusia. Wah, betapa uniknya kebudayaan satu ini ya, Minna-san?

 

Oh, iya, asal-usul Ikebana yang jika ditulis dalam Hiragana yakni いけばな, berasal dari tradisi mempersembahkan bunga di kuil Buddha di Jepang. Ikebana berkembang bersamaan dengan perkembangan agama Buddha di Jepang pada abad ke-6 yang dimana lebih besar kontribusi rakyat China dalam hal tersebut.

Sekarang mari beralih ke sejarah Ikebana, Minna-san. Menurut literatur klasik seperti Makura no Sōshi yang bercerita tentang adat istiadat Jepang, tradisi mengagumi bunga dengan cara memotong tangkainya dari sekuntum bunga, sudah dimulai sejak zaman Heian dahulu. Pada mulanya, bunga diletakkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan sebelumnya dan kemudian baru dibuatkan wadah khusus seperti vas bunga. Ikebana dalam bentuk seperti sekarang ini, baru dimulai para biksu di kuil Chohoji Kyoto pada pertengahan zaman Muromachi. Parabiksu kuil Chohoji secara turun temurun tinggal di kamar (Bo) di pinggir kolam (Ike), sehingga tercetus aliran baru Ikebana yang disebut aliran Ikenobo.

 

Pada pertengahan zaman Edo, berbagai kepala aliran (Lemoto) dan guru besar kepala (Soke) menciptakan seni merangkai bunga dengan gaya

Tachibana atau Rikka yang menjadi mapan pada masa itu. Di pertengahan zaman Edo hingga akhir zaman Edo pula, Ikebana yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan kerhaan atau kaum Samurai saja, secara berangsur-angsur mulai disenangi rakyat kecil. Ikebana gaya Shoka atau Seika lebih menjadi populer di kalangan penduduk sipil karena dirasa lebih unik dari aliran Ikebana yang lain. Jadi, Minna-san salah jika menyangka bahwa merangkai bunga tidak mempunyai aliran. Ikebana atau kebudayaan merangkai bunga sama halnya dengan lukisan, banyak sekali gaya yang digunakan para Maestro lukis, seperti contoh aliran Realisme dari Fransisco de Goya, Ekspresionisme dari Vincent van Gogh, atau Romantisme dari Raden Saleh.

Ikebana kemudian menyeluruh dan mulai terkenal ke Eropa lho, Minna-san. Yaitu sekitaran akhir zaman Edo hingga awal era Meiji. Ketika minat orang Eropa terhadap kebudayaan Jepang sedang tinggi-tingginya, Ikebana dikatakan menjadi pengaruh dari seni merangkai bunga di Eropa bahkan dunia. Hebat sekali ya? Sejak zaman Edo pula lahir banyak sekali aliran yang merupakan pecahan dari aliran Ikenobo.

Itulah artikel tentang Ikebana, kebudayaan Jepang yang mana masih sangat terkenal sampai sekarang ini.

Sumber : www.akibanation.com